Articles

AKADEMI PARADIGTA: PEREMPUAN BERDAYA UNTUK DESA BERDAULAT

Print

Akademi Paradigta merupakan pusat pendidikan dan pelatihan terstruktur yang memiliki peran penting menuju desa membangun dan berdaulat. Akademi Paradigta juga menjadi pilihan strategis perempuan untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan desa. hasilnya, bukan hanya menciptakan perempuan berdaya secara politik dan ekonomi, lebih dari itu, Paradigta menjadi lumbung pengetahuan baru yang dapat dijadikan sumber inspirasi bagi pembangunan desa lainnya.

Hal ini mengemukan dalam Semiloka Nasional dengan tema “Pengembangan Kepemimpinan Perempuan Desa, Perempuan Hebat, Desa Berdaulat”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga, di Jakarta, 1-2 Feberuari 2017. Acara ini diikuti oleh Akademia Paradigta, Mentor Paradigta, Kepala Desa dari berbagai wilayah Akademi Paradigta, Pemerintah Daerah, dan BPMD serta lembaga Mitra PEKKA. 

Hadir sebagai pembicara, Sekjen Kementerian Desa Anwar Sanusi. Menurutnya, masalah desa terletak pada tingkat partisipasi warga desa yang masih minim seiring dengan minimnya pembangunan sumberdaya manusia yang ada di desa. Akademi Paradigta mampu memberikan ruang sekaligus harapan baru lahirnya perempuan yang berdaya untuk mewujudkan desa harapan seperti yang mereka harapkan.

Melalui UU Desa, warga desa khususnya kaum perempuan

memiliki kewenangan untuk ambil bagian dalam proses pembagunan desa. “Kami berharap dana desa digunakan sesuai dengan peruntukan. Tahun 2015-2016 diprioritaskan pada pembangunan fisik, misalnya jalan desa, irigasi, sarana sosial seperti Puskesmas, namun ekonomi masyarakat belum berkembang. Pada tahun 2017 masalah pembangunan infrastruktur sudah selesai dan dana desa akan prioritaskan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan sosial pedesaan,” ungkap dia.

Untuk menopang ekonomi desa yang berkelanjutan, menurutnya, setiap desa perlu ada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai sumber ekonomi desa untuk kesejahteraan masyarakat desa. Kunci keberhasilan dana desa adalah partisipasi masyarakat untuk mengawal penggunaannya. “Pengawal yang terbaik biasanya adalah perempuan,” kata Sanusi.  

Hal senada juga diungkapkan Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Ahmad Erani Yustika, bahwa pembangunan memiliki cakupan yang sangat luas bukan hanya masalah fisik saja namun perlu memprioritaskan pada keberdayaan sumberdaya manusia (SDM). Karena itu, pembangunan dan pemberdayaan menjadi niscaya dilakukan.

“Pembangunan SDM masyarakat desa bisa dilakukan dengan membentuk forum-forum dimana masyarakat desa bisa belajar tentang isu yang penting bagi masyarakat desa. Forum-forum belajar tersebut bisa dibentuk oleh desa atau bekerjasama dengan lembaga/organisasi masyarakat seperti Akademi Paradigta,” imbuhnya.

Erani berharap, di era informasi yang pesat ini, desa mampu menjadi  produsen informasi baik dalam bentuk ide, gagasan yang nanti dapat bermanfaat bagi pembangunan desa. hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan kapasitas akademia melalui Akademi Paradigta.

Direktur PEKKA, Nani Zulminarni dalam sambutannya mengatakan, melalui Akademi Paradigta diharapkan perempuan mampu memainkan peran penting dalam proses pembangunan desa di wilayahnya. Saat ini sudah ada 567 kader perempuan desa potensial dari 87 desa di 20 kecamatan di tujuh wilayah, yakni Aceh (Aceh Besar), Jabar (Cianjur), Jateng (Batang), Kalbar (Kubu Raya), NTB (Lombok Tengah), Sultra (Buton), NTT (Flores Timur).  

FaLang translation system by Faboba
National Secretariat
Jl.Pangkalan Jati V No.3 RT 011/05 Kel.Cipinang Melayu,Kec.Makasar Jakarta Timur Jakarta 13620 Indonesia
Phone: +62 21 860 9325 or 862 8706, Fax: +62 21 862 8706
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.