Articles

Demi Masa Depan Anak-Anak Kampung

Print

SENIN (20/2) pagi, lima anak duduk membentuk setengah lingkaran di bangunan menyerupai joglo. Mereka menghadap seorang perempuan sambil membaca Alquran dalam Juz Amma yang mereka hafalkan secara bergiliran. Perempuan itu tidak lain merupakan guru mengaji mereka. Ia memperhatikan setiap bacaan dan menuntun setiap kali di antara kelima anak itu bacaannya putus karena kurang hafal atau salah.


Perempuan itu bernama Lilik Agustina. Setiap hari ia mendampingi anak-anak di kampungnya belajar dan menghafal Alquran. Kegiatan itu ia lakukan setiap hari kecuali malam Jumat dan Jumat pagi. "Selepas magrib untuk mereka yang belajar mengaji, sedangkan pagi untuk yang mulai menghafal," katanya lembut saat ditanya soal kegiatannya. Bu Lilik, demikian perempuan 43 tahun itu biasa dipanggil, setiap pagi mengajar mengaji atau disebut niteni hafalan sebelum ia mengajar.


Lilik mengajar di pendidikan anak usia dini (PAUD) dan dilanjutkan di madrasah diniah. Semua tempat mengajarnya itu ialah bagian dari Lembaga Pendidikan Islam Nurul Iman yang didirikan orangtuanya, KH Ali Wafa. Tidak hanya itu, lokasinya pun tepat di depan rumahnya di Desa Banjar Tabulu, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Kecintaan Lilik akan dunia pendidikan anak-anak muncul setelah suaminya, Sarini, meninggal karena sakit.


Apalagi saat itu ia tengah mengandung anak semata wayangnya, Ibnu Subakti. Di usia kandungan yang baru enam bulan itu, Lilik memilih tinggal bersama orangtuanya selama hampir 10 tahun. Baru setelah orangtuanya pindah ke rumah baru, ia mulai hidup mandiri meski sebagian kebutuhan hidupnya dibantu orangtua, termasuk biaya pendidikan anaknya. Kini Ibnu sudah dewasa dan menikah serta memiliki dua anak. Semua tinggal bersama di rumah Lilik.


"Waktu itu saya hanya membantu mengelola sawah orangtua yang tidak seberapa sambil beternak kecil-kecilan," kenangnya.
Saat itu, lanjut Lilik, ia tidak memiliki kegiatan lain. Ia pun mulai mengajar mengaji di musala depan rumahnya. Musala yang sama ketika ia kecil belajar Alquran. "Sejak saat itu, saya mulai menaruh perhatian pada anak-anak. Semua saya anggap sebagai anak sendiri yang membutuhkan kasih sayang meski kedua orangtua mereka masih ada," jelasnya.


Pendidikan
Bagi anak-anak di kampungnya, pendidikan bukan barang mudah. Pasalnya kehidupan ekonomi warga Desa Banjar Tabulu termasuk terbelakang. Hingga 2009, KH Ali Wafa memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam. Ayahnya pun mengangkat Lilik menjadi salah satu pengajar di madrasah diniah, sebuah jenjang pendidikan dasar nonformal khusus keagamaan.


Kini lembaga pendidikan itu sudah menjadi madrasah ibtidaiah (setingkat sekolah dasar), madrasah sanawiah (setingkat sekolah menengah pertama), dan madrasah aliah (setingkat sekolah menengah atas). Namun, Lilik tetap memilih mengajar di madrasah diniah. "Saya tak memenuhi syarat untuk menjadi guru di lembaga formal itu karena tidak memiliki ijazah yang memadai," katanya lirih.


Maklum, wanita yang juga aktif sebagai kader posyandu dan bendahara desa di Banjar Tabulu itu hanya berijazah Paket A.
Di lembaganya itu, ia hanya mengajar di PAUD yang baru terbentuk beberapa tahun lalu. Meski demikian, ia merasa bahagia bisa mengajar di PAUD dan di lembaga pendidikan nonformal. Ia masih memiliki waktu untuk aktif di kegiatan sosial lainnya, termasuk di Program Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) yang diikutinya sekitar delapan bulan lalu.
Meski awalnya ragu bergabung dengan Pekka karena merasa tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, Lilik akhirnya memutuskan bergabung. Ia mengetahui Pekka dari sahabatnya, Siti Rahma. Siti memperkenalkannya kepada koordinator Pekka di Kabupaten Sampang saat mengikuti kegiatan di Kantor Kecamatan Camplong. "Bagi saya, pengabdian tidak dilihat dari status ataupun tempat, tetapi sejauh mana bisa memberikan sumbangan hal yang positif bagi lingkungan," jelas dia.


"Yang paling penting, saya bisa menyumbangkan kemampuan saya untuk masa depan anak-anak di kampung ini," sambungnya. Koordinator Pekak Kabupaten Sampang, Siti Rahma, menilai sosok Lilik Agustina merupakan figur yang sangat cinta pada pendidikan anak-anak. Kesibukannya pada kegiatan sosial di desanya tidak mengurangi perhatiannya pada tugas sebagai guru PAUD dan madrasah diniah. "Pendidikannya tidak seberapa, tapi kepeduliannya kepada masa depan anak-anak sangat patut menjadi contoh," kata Siti Rahma.

Mediaindonesia

FaLang translation system by Faboba
National Secretariat
Jl.Pangkalan Jati V No.3 RT 011/05 Kel.Cipinang Melayu,Kec.Makasar Jakarta Timur Jakarta 13620 Indonesia
Phone: +62 21 860 9325 or 862 8706, Fax: +62 21 862 8706
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.