Articles

Tika Kartika Mengubah Paradigma Lewat Paud

Print

MESKI berada di permukiman padat Kampung Sindangsari, Kecamatan Cipanas, Jawa Barat, tidak sulit menemukan lokasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kartika Mandiri. Para penghuni wilayah dengan gang yang hanya selebar satu motor itu tampak mengenal betul keberadaan PAUD tersebut. PAUD Kartika Mandiri menempati lantai satu di rumah dua lantai sederhana. “Mangga kelebet (silakan masuk),” sapa seorang perempuan berjilbab abu-abu, saat Media Indonesia datang, Sabtu (14/1).

Ia adalah Tika Kartika, pendiri PAUD tersebut. Selain spanduk di muka rumah, ciri khas PAUD dihadirkan lewat cat tembok warna-warni di lantai bawah seluas 15 meter persegi itu. Namun, selebihnya, tidak banyak alat bantu ataupun alat peraga seperti yang ada di PAUD-PAUD perkotaan. Kesederhanaan memang lekat di sana, tetapi kisah di baliknya jauh dari sederhana. Kisah itu lahir dari keprihatin­an dan pengorbanan Tika untuk menumbuhkan kesadaran pendidikan di kampung itu. “Saya lihat aktivitas anak usia dini di sini setiap harinya hanya bermain tanpa ada sesuatu yang bisa bermanfaat bagi tumbuh kembang pendidikan mereka,” kenang Tika tentang kondisi sebelum pendirian PAUD pada 2008.

Meski hanya berjarak sekitar 200 meter dari simbol keme­gahan pemerintahan, yakni Istana Cipanas, warga kampung tersebut nyatanya memang minim akan kesadaran pendidikan. “Mayoritas penduduk di sini (Kampung Sindangsari) kalangan menengah ke bawah. Mereka berpikir pendidikan itu tidak terlalu penting. Makanya, rata-rata warga di sini berpendidikan lulusan SD dan SMP,” tambah Tika yang kala itu merupakan warga baru. Ketiadaan pendidikan bagi anak usia dini membuat ibu tiga anak itu pun ingin membuat perubahan. Terlebih ia memiliki bekal keterampilan PAUD yang diperoleh dari keterlibatannya pada Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) yang merupakan program dari Komnas Perempuan, Bank Dunia, dan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita.

Perempuan yang hanya mengantongi ijazah paket C itu mulai menyebarkan ide pendirian PAUD ke warga. Bukan perkara mudah karena karakter warga yang sangat terpe­nga­ruh oleh kebiasaan umum. “Kalau dalam istilah orang Sunda, di sini disebut emoh (lenguh) sapi. Satu ikut, semua ikut. Yang satu tidak ikut, semua pasti tidak ikut,” kelakar perempuan berusia 44 tahun itu soal paradigma di kampungnya. Meski begitu, dengan semangat tinggi, akhirnya ajakannya disambut warga. Namun, kendala tempat muncul seiring dengan jumlah anak usia dini yang ternyata cukup banyak, 60 orang. Tidak ingin idenya pupus, perempuan yang aktif di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Cipanas itu merelakan lantai satu rumah kontrakannya. Ia dan keluarga ikhlas hidup berdesakan di lantai atas.

http://mediaindonesia.com

FaLang translation system by Faboba
National Secretariat
Jl.Pangkalan Jati V No.3 RT 011/05 Kel.Cipinang Melayu,Kec.Makasar Jakarta Timur Jakarta 13620 Indonesia
Phone: +62 21 860 9325 or 862 8706, Fax: +62 21 862 8706
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.