|
Ditulis oleh Masi Suban
|
|
Rabu, 25 Mei 2011 10:12 |
|
Oleh Masi Suban (Kader PEKKA NTT)
Divisi pendidikan dari lembaga Pekka sudah di kenali oleh masyarakat yang ada di desa-desa. Sasaran Pekka baik Ina – Ina Pekka maupun non Pekka, sejak lama khususnya dalam penanganan masalah buta huruf, lupa huruf dan tidak tamat SD. Seiring dengan lajunya perkembangan jaman, serikat Pekka NTT lewat program pendidikan bergerak pelan tapi pasti. Dalam menggapai impian dan cita – cita Ina – Ina Pekka ke depan, lebih- lebih setelah lahirnya undang – undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Petroneia Peni
|
|
Kamis, 10 Februari 2011 16:18 |
|
Saat aku dikabari oleh Korlap Bunda mau bicara denganKu, tepatnya Rabu 5 Januari 2011 jam 10.00 WITA, yang menyatakan bahwa ”Apa Kabar Ibu Petronela sibuk ya !!!l Kata Bunda. Dengan spontan aku menjawab ; kabar baik Bunda dan aku tidak sibuk , Bunda mau dengan Ibu Petronela ke Amerika kalau saya jawab sibuk maka pasti orang lain yang dibawa bunda karena begitu banyak kader—kader yang potensial.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Nani Zulminarni
|
|
Selasa, 25 Januari 2011 16:25 |
|
PETRONELA PENI LOLI
Walaupun aku sudah cukup lama mengenal ibu Nela – begitu beliau dipanggil, namun perjalanan bersama nya ke Washington DC, memberiku peluang untuk mengenal bu Nela secara lebih dalam. Bu Nela lahir di Dusun Walang, Desa Nisa Nulan pada 9 Oktober 1968. Dia sekolah SD di desa Nisa Nulan, kemudian melanjutkan SMP di kota kecamatan Waiwerang, menumpang di rumah saudaranya. Setamat SMA dia berkesempatan melanjutkan SMA swasta di kota Kabupaten, Larantuka dan tinggal di asrama putri disana. Dari kampungnya ada 11 yang melanjutkan ke SMA di saat itu dan 8 diantaranya perempuan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh pekka
|
|
Kamis, 28 Oktober 2010 09:07 |
|
Kisah ini terjadi di Nusa Tenggara Barat - NTB, terjadi pada Sasa (bukan nama sebenarnya). Sasa adalah anak gadis berusia 16 tahun dengan pendidikan lulus SD. Sasa dilarikan laki-laki yang tidak dikenalnya pada saat dia mengantar makanan ke rumah keluarga jauhnya yang jarang dia temui dan tidak kenalnya. Dia hanya tahu laki-laki yang melarikannya itu anak pak De-nya. Laki-laki tersebut sudah pernah menikah dan memiliki satu anak. Saat ini laki-laki tersebut sudah bercerai dari istrinya. Sasa dilarikan ke suatu desa dan dititipkan di keluarga laki-laki tersebut yang tidak dikenal oleh Sasa. Sasa berontak dan minta diantar pulang, namun malang nasib Sasa karena laki-laki tersebut sudah menyebarkan isu kepada masyarakat setempat bahwa dirinya adalah calon pengantin-nya. Demi mendengar isu tersebut Sasa kaget dan semakin kuat keinginannya melarikan diri. Tetapi.... dirinya tidak punya uang dan tidak tahu posisi dia ada di mana. Keluarga laki-laki yang melarikan tersebut berpegang kuat pada adat, jika perempuan dilarikan maka harus dinikahkan untuk menjaga nama baik si perempuan dan dirinya. Jika tidak dinikahkan maka akan menjadi aib bagi kedua belah keluarga.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Romlawati
|
|
Matahari sudah mulai condong ke barat, saat saya mendarat di bandara Wai Oti’ di Maumere, Flores Timur. Penerbangan dari Denpasar ke Maumere memakan waktu 135 menit, karena harus transit dulu di Tambolaka, Flores Barat. Sebelumnya pesawat mengalami penundaan satu setengah jam di Jakarta, pada jam 07.30 pesawat merpati terbang dari Jakarta menuju Denpasar. Dari Denpasar, saya ganti pesawat MZ 685 menuju ke Maumere.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |