Beranda Cerita Kami CERITAKU DI AMERIKA
Beranda  
Tentang Kami  
Di mana Kami  
Cerita Kami  
Kontak  
 
 

 
 
 
 
 
  

 

Panduan Keadilan Untuk Semua (Interactive)

Cari

CERITAKU DI AMERIKA PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Petroneia Peni   
Kamis, 10 Februari 2011 16:18

Saat aku dikabari oleh Korlap Bunda mau bicara denganKu, tepatnya Rabu 5 Januari 2011 jam 10.00 WITA, yang menyatakan bahwa ”Apa Kabar Ibu Petronela sibuk ya !!!l Kata Bunda. Dengan spontan aku menjawab ; kabar baik Bunda dan aku tidak sibuk , Bunda mau dengan Ibu Petronela ke Amerika  kalau saya jawab sibuk maka pasti orang lain yang dibawa bunda karena begitu banyak kader—kader yang potensial.


Cari tau informasi sedikit dari PL tentang proses paspor dan Ietak kantor Imigrasi. Jalanlah kami ke Maumere tepatnya tanggal 6 Januari 2011. Aduh .....  gara - gara kasus Gayus aku dipersulit, Tanya iniIah.. itulah, tapi berkat campur tangan Tuhan dan Lewotanah serta Bunda maka seharusnya 3-4 hari proses paspor tapi jadinya 1 hari saja.

Akhirnya esoknya tanggal 8 Januari 2011 karena pas foto untuk proses Visa maka walaupun cape sekali karena baru pulang dari Maumere untuk proses paspor terpaksa harus jalan.

Gara-gara Amerika aku jadinya berani pada hal selama hidupku ke Jakarta belum pernah aku sendiri. Perjalanan sungguh melelahkan selama proses paspor dan visa. Aduh .... susah karena tidak tahu bahasa Inggris, saat aku menginjakkan kaki di halaman Kantor Kedutaan Indonesia, semuanya berbahasa Inggris.

Setibanya di Washington yang begitu indah, bersih dan mempesona, sesekali aku berkata dalam hati Bahwa ini benar - benar terjadi atau hanya sebuah mimpi.  Aku tahu bahwa Pekka-lah yang membuat aku seperti ini, maka sampai kapanpun dan dimanapun saya berada aku akan tetap dan terus melanjutkan perjuangan Bunda.

Walaupun sebesar apapun Jabatan/ Titel yang di dapatkan di daerahnya, belum tentu ia besar di daerah lain. Rasanya aku seperti seekor semut-pun lebih berharga karena buta bahasa Inggris, atau bahasa yang lain, karena pesta Hut JSDF yang ke—10 maka Pekka yang diundang untuk menyampaikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama ini.  Ada 21 Negara yang diundang saat itu. Namun sebelumnya aku bersama Bunda bertemu dengan teman-temanya ( Ibu Sri Mulyani ). Aduh kaget aku mendengar nama Ibu Sri Mulyani( mantan Mentri Keuangan Indonesia), saya heran dan kaget kok orang Indonesia pintar seperti ini tidak dipakai di Indonesia. Saya sangat senang dan bangga bahwa orang Indonesia mendapat Kedudukan/ Jabatan yang terhormat di Work Bank Amerika sebagai Direktur. Di Indonesia saya nonton lewat TV, tapi Amerika ketemu langsung dan diskusi langsung karena Bunda menceritakan awal terbentuknya Pekka, Beliau sangat kagum akan perjuangan Bunda katanya, Ibu Nani memang betul-betul hebat karena perjuangan Ibu Nani bergerak dari akar rumput sampai kepada saya yang berawal dari Perempuan kepala keluarga yang akhirnya terpilih menjadi kepala Desa, Yang ditargetkan meeting 15 menit namun sampai 40 menit. Dilihat dari cara bicaranya Ibu Sri orangnya wibawa, keibuan walaupun perjuangan Ibu Nani, Ibu Petronela, Ibu Sri Mulyani toh pada akhirnya punya tujuan sama, kepada orang - orang kecil yang kurang perhatian oleh programa - program Pemerintah, tapi Ibu Nani memang hebat.

Tibalah kami pada saat presentasi tepatnya tanggal 19 Januari 2011 jam 12.00 giliran Indonesia. Terus terang awalnya aku agak takut karena baru pertama kali berhadapan dengan orang-orang yang berdasi dari berbagai Negara. Soal berhadapan dengan ibu-ibu Pekka dan masyarakat itu hal yang biasa kulakukan sehari-hari. Saya tidak bicara banyak baik di Pekka maupun di desa membuat Bunda Nani kecewa dan juga semua yang hadir saat itu. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa berbicara banyak tapi lebih senang langsung berbuat banyak buat Pekka dan masyarakat.

Setiap kali aku diketemukan Bunda dengan teman-temannya selalu ada pertanyaan gimana perasaan saat ke Amerika, spontan saya menjawab, “seakan-akan aku dibawa Bunda ke surga." Kata guru agamaku waktu aku masih di SD bahwa di surga itu semuanya serba ada dan tidak ada penderitaan. Dan itu kurasakan selama dia Amerika. Ternyata di Amerika mereka sangat menghargai orang yang berjalan kaki sehingga sampai kepada rambu lalu lintas saja ada waktu khusus untuk para pejalan kaki. Sampai kepada tata kotanya pun sangat baik.

Satu pengalaman yang menarik tentang makanan di mana selama 2 hari perut saya tidak pernah terisi dengan nasi. Namun ternyata datang juga Boiorma ( staf WB yang pernah ke NTT untuk monitoring) dia mengajak kami ke rumah makan yang biasa mereka makan bersama keluarga. Aduh di sana susah cari nasi, semuanya serba roti yang isinya bermacam-macam.

Di Amerika pemerintah lebih memperhatikan orang-orang miskin, ada aturan pemerintah juga mengatur bagi suami istri yang bekerja tidak diperbolehkan. Satu harus berkorban karena anak berusia 0- 12 tahun harus dijaga oleh suami atau istri. Bagaimana dengan Indonesia, Negara kita seperti itu karena kita lebih memperhatikan uang dari pada manusia.

Kita mendapat 2 penghargaan yaitu penghargaan pertama dinilai oleh staf WB dan penghargaan kedua oleh para peserta yang hadir.

Perjuangan Bunda untuk membantu ina-ina Pekka menjadi motivasi buatku. Walaupun Bunda sibuk dengan mengurus anak-anaknya tapi dia juga tidak lupa dengan ina-ina Pekka yang lagi menanti uluran tangan dari Bunda. Bunda Nani adalah perempuan yang tangguh dan berani mempertaruhkan segalanya demi menolong orang susah seperti ina-ina Pekka. Aku hanya bisa berharap semoga semua perjuangan Bunda Nani bisa menjadi teladan buat semua ina-ina Pekka. Dan untuk membahas semuanya itu hanya dengan selalu menjaga kekompakan dan jangan pernah menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh Bunda Nani. Semoga semua usaha dan perjuangan Bunda selalu mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bunda Nani terima kasih untuk semuanya, karena mu-lah aku bisa melihat dan menginjakkan kaki di Amerika.

 

Nisanulan, 10 Pebruari 2011

Petronela Peni

 

GALERI
Video Foto Laporan Buletin
Pekka dalam Berita